Perbedaan awal Ramadan dan Idulfitri setiap tahun sering kali menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Tidak jarang pula perbedaan ini memicu perdebatan, seolah-olah ada yang paling benar dan yang lain keliru. Padahal, jika dipahami lebih dalam, persoalan ini bukan terletak pada ajaran agamanya, melainkan pada cara umat Islam memahami dan menjalankan ajaran tersebut.
Dalam pandangan Muhammadiyah, penentuan awal bulan Hijriah merupakan bagian dari tadayyun atau cara beragama, bukan din (agama itu sendiri). Agama telah sempurna, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Namun, cara manusia memahami dan mengamalkan ajaran agama bisa berkembang seiring waktu dan kemajuan ilmu pengetahuan. Inilah yang menjadi dasar mengapa Muhammadiyah mengalami perkembangan metode, dari rukyat, beralih ke wujudul hilal, hingga kini mengusung Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Salah satu prinsip penting dalam KHGT adalah penggunaan hisab, yaitu perhitungan astronomi. Sebenarnya, penggunaan hisab bukan hal baru. Umat Islam sudah lama menggunakannya untuk menentukan waktu salat melalui jam, tanpa harus melihat langsung posisi matahari. Namun, ketika diterapkan dalam penentuan awal bulan Hijriah, tidak semua pihak dapat menerimanya. Di sinilah letak perbedaan pendekatan yang kemudian melahirkan perbedaan waktu ibadah.
Konsep KHGT sendiri menawarkan pendekatan global. Artinya, jika di satu wilayah di dunia hilal sudah memenuhi kriteria tertentu, maka seluruh dunia dianggap telah memasuki bulan baru. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip kesatuan matla’ dan transfer imkanur rukyah, dengan harapan umat Islam di seluruh dunia dapat memiliki satu kalender yang sama, sebagaimana kalender Masehi yang telah lama disepakati secara internasional.
Namun, upaya menuju penyatuan ini tidaklah mudah. Hingga kini, belum semua negara dan otoritas keagamaan sepakat untuk menggunakan sistem yang sama. Perbedaan kriteria, metode, hingga pertimbangan geografis menjadi tantangan tersendiri. Akibatnya, perbedaan awal puasa dan hari raya masih terus terjadi dari tahun ke tahun.
Meski demikian, gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal merupakan langkah maju dalam membangun kesatuan umat. Ini bukan sekadar soal tanggal, tetapi tentang upaya menyatukan persepsi dan praktik ibadah secara global. Perbedaan yang ada seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi ruang untuk saling memahami.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah siapa yang lebih dulu atau lebih akhir dalam memulai ibadah, tetapi bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut dengan bijak. Dengan ilmu, sikap terbuka, dan saling menghormati, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan, bukan kelemahan, dalam kehidupan beragama.

